Minggu, 18 April 2010

Aibkah jika Hawa ungkapkan cinta ke Adam ???


Ketika bunga mulai bersemi di taman hati, jiwa-jiwa yang melayang bagai kumbang datang berdekatan. Sebuah ungkapan kata seketika membebani lidah lantaran terbentur oleh kodrat illahi. Layakkah seorang Hawa apabila memulai mengungkapkan perasaannya kepada si Adam?.

Perasaan yang mulai tumbuh di bawah alam sadar tiba-tiba membutakan mata batin. Rasa takut akan kehilangan mengacaukan pikiran jernih. Sekali lagi..mungkinkah Hawa menembak sang Adam?.

Dengan kodrat sebagai seorang wanita, seharusnyalah menunggu sang Adam untuk menjemput. Namun ketika sang Adam tak menghiraukan ayat-ayat cinta sang Hawa, apakah Hawa harus menjatuhkan martabat kesuciannya sebagai seorang wanita untuk memulai mengungkapkan kata cinta?

Berbenturan dengan kodrat yang mengekang, terpaksa sebagian dari kaum Hawa hanya berdiam memendam perasaan yang kemudian hanyut mengalir ke telaga. Punah rasa hati ketika melihat sang pujaan hati akhirnya menyunting dan memetik bunga lain. Rasa sesal terkadang muncul mendatangkan beribu penyesalan, namun apakah dengan begitu sang Hawa harus terpaksa menyerah dan mengungkapkan perasaannya?

Dan ketika sang Adam mulai acuh, Hawa pun terpaksa menangis di sudut kamar tersenggal-senggal…"mengapa kau sampai hati tidak mau mengerti perasaanku ini, haruskah ku korbankan martabat wanitaku supaya kau tahu bahwa aku cinta padamu." Apakah Hawa harus mengalah menghadapi perasaannya?

Mungkin benar jika sang Hawa harus menunggu. Rasa segan dan malu lebih banyak terkandung dalam tubuh seorang Hawa. Adam seharusnya lebih gagah dihadapan sang Hawa bak seorang pangeran berkuda yang menjemput putri kerajaan. Akan tetapi ketika sang Adam mendapatkan permasalahan yang serupa. Keterbatasan kuasa untuk mengungkapkan isi hatinya terpaksa harus membungkam mulutnya,
beban berat yang jatuh di punggung Adam seakan tak mampu untuk ditolak dari punggung. Hanya sebuah tatapan dari jauhlah yang dapat dia lakukan. "Seandainya ku mampu…maukah kau kujemput wahai Hawa…aku rindu.."
Read More..

Request Hawa for Adam...!!

Tolong untuk para ikhwan (atau yang merasa sebagai muslim): Wanita adalah makhluk yang sempit akal dan mudah terbawa emosi. Terlepas bahwa aku tidak suka pernyataan tersebut, but itu fakta. Sangat mudah membuat wanita bermimpi.

Tolong, berhentilah memberi angan-angan kepada kami.

Mungkin kami akan melengos kalau disapa. Atau membuang muka kalau dipuji. But, jujur saja, ada perasaan bangga. Bukan suka pada Antum (mungkin) but suka karena diperhatikan "lebih".

Diantara kami, ada golongan Maryam yang pandai menjaga diri. Tetapi tidak semua kami mempunyai hati suci.

Jangan Antum tawarkan sebuah ikatan bernama ta'aruf bila Antum benar-benar belum siap akan konsekuensinya. Sebuah ikatan ilegal yang bisa jadi berumur tak cuma dalam hitungan bulan, tetapi menginjak usia tahun, tanpa kepastian kapan akan dilegalkan.

Tolong, pahami arti cinta seperti pemahaman

Umar Al Faruq: seperti induk kuda yang melangkah hati-hati karena takut menginjak anaknya (afwan, bener ini ya riwayatnya?). Bukan mengajak kami ke bibir neraka. Dengan SMS-SMS mesra, telepon sayang, hadiah-hadiah ungkapan cinta dan kunjungan pemantapan yang dibungkus sebuah label: ta'aruf.

Tolong, kami hanya ingin menjaga diri. Menjaga amal kami tetap tertuju pada-NYa. Karena janji Allah itu pasti. Wanita baik hanya diperuntukkan laki-laki baik.

Jangan ajak mata kami berzina dengan memandangmu.

Jangan ajak telinga kami berzina dengan mendengar pujianmu.

Jangan ajak tangan kami berzina dengan menerima hadiah kasih sayangmu.

Jangan ajak kaki kami berzina dengan mendatangimu.

Jangan ajak hati kami berzina dengan berkhalwat denganmu.

Ada beda...persahabatan sebagai saudara, dengan hati yang sudah terjangkiti virus..... Beda itu bernama "rasa" dan "pemaknaan"

Bukan, bukan seperti itu yang dicontohkan Rasulullah r.

Antum memang bukan Mush'ab

Antum juga tak sekualitas Yusuf I,

tetapi Antum bukan Arjuna dan tak perlu berlagak seperti Casanova. Karena Islam sudah punya jalan keluar yang indah: segeralah menikah atau jauhi wanita dengan puasa

Tolong, sebelum Antum memutuskan untuk mendatangi kami, jawab dulu pertanyaan ini dengan jujur:

- Setelah 3 bulan Antum mendatangi dan menyatakan cinta, Antum masih belum siap untuk mengikrarkan dalam sebuah pernikahan?

- Ataukah Antum masih butuh waktu lebih lama dan meminta kami menunggu, dengan alasan yang tidak syar'i dan terlalu duniawi? Kalau jawabannya "YA",: "SELAMAT"

berarti Antum lebih pantas masuk surga dibandingkan Ali bin Abi Thalib t? Dia baru berani mengatakan cinta kepada Fathimah, setelah menikah.

Ali pemuda kesayangan Rasul, tetapi menunggu waktu bertahun-tahun untuk mengatakannya.

Bukan karena dia pengecut, tentu saja justru karena dia adalah laki-laki kualitas surga...

Tolong, kami tidak ingin menyakiti hati calon suami kami yang sebenarnya. Mereka berusaha untuk menjaga hijab, agar datang kepada kami dalam kondisi suci hati, tetapi kami malah menjajakan cinta kepada laki-laki yang belum tentu menjadi suami kami. Atau Antum sekarang sudah berani menjamin bahwa Antum adalah calon suami kami sebenarnya?

Maaf, wanita itu lemah dan mudah ditaklukkan.

Sebagai saudara kami, tolong, jaga kami. Karena kami akan kuat menolak rayuan preman, tapi bisa jadi kami lemah dengan surat cinta kalian.

Bukankah akan lebih indah bila kita bertemu dengan jalan yang diberkahi-NYA? Bukankah lebih membahagiakan bila kita dipertemukan dalam kondisi diridhai-NYA?

Bukan cuma saat menikah, tetapi saat pertemuan yang juga bebas dari maksiat.

Allah Maha Pencemburu, dan DIA Maha Memiliki kami, so...mintalah kepada-Nya sebelum mendatangi kami.
Read More..